Tampilkan postingan dengan label Info After Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info After Traveling. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2009

J 2 J (Journey to Jogja)

Akhirnya bisa nulis lagi disini , kerja dengan dunia telekomunikasi ternyata tidak selalu dimanjakan dengan namanya internet , surfing merupakan hal yg susah susah gampang didapat di daerah papua , mau ke warnet leletnya nggak karu karuan , mau lewat GPRS buset dah attention error connected to operatornya jadi pandangan yg lebih sering dilihat dilayar handphone dibandingkan dengan tampilan web yg kita inginkan . atau paling parah memang aq nya ya yang dodol , mau cerita journey to jogja kok nunggu balik dulu ke papua , whatever dah , yang pasti udah geregeten nih mau menceritakan beberapa pengalaman di jogja.

Perjalanan ke jogja aq mulai pada pukul 5 pagi , start dari gang dukun , daerah kuningan Jakarta Selatan. Kok mulainya dari sono lik , bukannya dari malang? Dimulai dari sana soalnya memang saya sudah janjian ama temen yg mau meluangkan waktunya atau lebih tepatnya bolos dari kuliahnya untuk ikutan ngegembel di jogja , thanks for runnie , lain kali kita jalan bareng lagi ya. Kembali ke jam 5 pagi , abis subuhan kita mulai jalan ke halte untuk mencari tumpangan taksi (emang di Jakarta masih bisa numpang di taksi? , jawabannya bisa kok , pokoknya waktu turun kasih uang ke supir minimal sesuai dengan argonya) setelah dapat taksi , kita mulai melaju ke cengkareng , biar gak telat cek in , langsung masuk tol semanggi dan melaju menuju cengkareng , disini aq sadar , budaya dijakarta adalah kalau mau cepat dan sedikit macet , mobil harus segera dilaju di toll way . singkatnya kita cek in ,tunggu pesawat berangkat , boarding dan take off , kejadian selanjutnya pasti sudah tau khan , selama dipesawat kita melakukan hal yang paling menarik (bukan godain pramugari) yaitu sleeping on board time. Pokoknya bangun2 udah di welcome Adi Sucipto Airport , Jogja akhirnya kesampaian juga aq menginjakkan kaki di tanah Jogja (sekitar pukul 9.00 WIB) keluar bandara hal yg ndak pernah aq alami terjadi , tidak satupun supir taksi ataupun makelarnya menawarkan jasa angkutan umum elit Indonesia (baca : taksi) kepada kami , ini karena wajahku atau wajahnya runnie ya yg nggak meyakinkan kalo kami mampu bayar ongkos taksi ?. diairport aq sudah janjian dengan my old sister di papua yg sekarang sudah kapok dan tobat tiggal dipapua , dan sudah bermigrasi ke jogja dengan alasan kuliah. Jeng Endah telat tiba di bandara , yang ada kami celingak celinguk sebentar dech di bandara , tapi nggak pake tampang blo’on lho ya!

Trans Jogja , yah itu angkutan yg mengantarkan kami ke M way (Jalan Malioboro). Sekitar 30 menit perjalanan dari bandara ke kota , sampe di malioboro hal yg pertama kali dilakukan adalah cari sarapan, oh iya selama di jogja kami ndak pernah kuliner Gudeg, emang pada ndak hobi makanan manis soalnya. Sarapan pingin yang anget anget pake kuah , bakso dech yg jadi pilihan , dan ternyata rasa baksonya mengecewakan. Kesan pertama dijogja yang mengecewakan dengan awal kuliner yg tidak masuk taste kami. Gak pake lama dah di warung M way itu , kami pun mulai hunting hostel atau losmen , gang gang malioboro menjadi tempat pertama kami mencari , hasilnya nihil (walaupun mau cari yg murah kita juga khan butuh yg nyaman , masak berlibur tinggal di tempat yg nggak nyaman , liburannya kurang pas donk nanti) yang kami temui hanyalah kamar kamar lumayan kumuh dengan bandrol harga yang nggak banget (mending di hotel berbintang sekalian). Tapi namanya liburan yg dirancang mengalir apa adanya, kami lanjutkan pencarian kearah prawirotaman , nah disanalah kami menemukan guesthouse yang muantep banget “ Delta Guesthouse” kalo pada main ke jogja dan ingin berhemat uang penginapan , nih tempat aq kasih nilai 9, pokoknya nggak akan menyesal dech , kamarnya dibuat seperti bungalow pake dinding gedeg /anyaman bamboo , ada kolam renangnya walau ukuran kecil, harga sewa termasuk sarapan pagi, selama menginap 3 hari disana cuman kita saja yang local touris nya. Lainnya bule semua , dan akhirnya memberiakan efek maknyus setiap pagi dan malam nya (two pice untuk setiap bule yg berenang), karena kamar kami didepan kolam renang dan tempat nonkrongnya pun dibibir kolam ,cuci mata dengan pandangan bule2 seksi dan bule2 maco (buat runnie) menjadi obrolan yg nggak ada abisnya diantara kami berdua. Target ke2 setelah penginapan adalah kendaraan touring, hasil pencarian hari pertama inipun mengecewakan , jawaban yang paling sering terlontar adalah “maaf, kami tidak menyewakan sepeda motor kepada turis domestic” anjing bener nih orang , nggak bisa bedakan orang baik2 sama maling yang pura2 jadi orang baik2 apa? , walaupun harus pake deposit 1 jt juga gw jabanin untuk sewanya, tapi namanya orang sabar selalu aja ada jalan keluar, akhirnya kita mendapatkan sewa kendaraan di sekitar guesthouse, acara plesiran pun dilanjutkan untuk keliling temple2 yg tersebar disekeliling jogja , yg bisa gw pesenin buat semua orang yg mau plesiran jangan plesiran tepat siang hari , panasnya boss .. nggak ketulungan , mana jalan keluarnya selalu dibuat oneway melengkapi gempornya kaki mendadi dan menuruni anak tangga candi candi itu, kalau cerita sejarahnya candi2 yg kita datangi seperti ratu book , prambanan , ama Borobudur , mending search aja dimbah google , kalo Tanya aq ya yg ada Cuma kenarsisan diri untuk foto sana foto sini , mau dibilang gak pantes kek , cuek abis, yg penting hati senang. Kuliner ala tugu juga nggak ketinggalan waktu berkunjung disana , kopi jos yang pake areng itu ternyata memang maknyus melegakan kerongkongan yg sudah kepedesan ama nasi kucing ala mbok e. (mbok-e iku eruh lek aq kiy wong plesiran , asli uduk wong jogja , padahal aq nggak pake koteka lho malem itu) selebihnya wes lali aq apa aja yg aq alami disana , seng pasti jempol abis buat jogja , bersama kemegahan keratin dan semua mistik yg tersembunyi didalemnya . jadi inget jalan tutup mata di aloen-aloen kidul . next target trip … Lombok dan sekitarnya … cepak2 duit e sek kiy :P

Leia Mais…

Minggu, 08 Maret 2009

Hotel di Papua , seperti apa sich?

Hotel , bungalow, hostel, losmen , mana yang anda pilih kalau sedang berpergian. Jawabannya pasti “ditentukan dengan anggaran keuangan” hehehe , untuk area papua saya akan coba ceritakan pengalaman menginap dibeberapa hotel , tidak selalu terbayang kemewahan fasiitas yang ada khan kalau kita menginap dihotel, bahkan untuk beberapa hotel dipapua system penginapannya ada yang ala hostel, satu kamar berbagi dengan beberapa orang (ini hampir pada semua hotel di kota2 kecil papua) bisa dibayangkan kalau satu kamar tidur bareng sama orang yang baru saja kita kenal atau bahkan belum kita kenal, kalau sekamar sama cewek gimana ? lihat ceweknya ya … tua muda , cakep atau ndak, hehehehe . Hotelnya pun dalam satu kota rata rata bisa dihitung , bagaimana tidak terkadang dalam satu kota hanya ada satu atau dua buah hotel saja , kalau seperti itu apa bisa memilih? . untuk di Biak, kebanyakan penginapan bersifat penginapan Transit , Waktu itu saya menginap di Hotel Solo, Namanya sih hotel, tapi keadaannya jauh dari hotel, apalagi kota Solo, hotel ini lebih terlihat seperti Losmen, menempati bangunan tua dengan kamar kamar tambahan terbuat dari tripleks disisinya, persisi kaya kos kosan. Petugas receptionisnya adalah seorang bapak bapak gendut yang selalu memakan pinang . mulai dari sore sampe pagi hari , aduh ributnya , ternyata hotel ini bersebelahan dengan pasar ikan , mau tidak mau kericuhan pasar bisa terdengar jelas dari kamar hotel , ditambah lagi dengan beberapa pengeras saura penjual DVD bajakan degan lagu lagu hits mereka , ada yang dangdut dengan trio macannya , ada juga POP dengan kangen band nya.

Hotel di kota Timika lain lagi, karena kota ini more rich than other city on the papua, jadi kebanyakan hotelnya dijadikan tempat kos karyawan Freeport ,dikota ini juga ada hotel Sheraton (hotel yang paling banyak bintangnya dipapua) , cuman enaknya ya terjamin kualitas pelayanannya , Alhamdulillah gak ilang standart internationalnya. Beda lagi untuk kota tangguh atau membramo , coba keliling kota untuk cari hotel nggak bakalan ketemu , jadi harus buat tenda sendiri atau menumpang tidur dirumah warga. Dikota Babo , kalau dipenginapan kita sudah langsung dapat makan pagi, siang, dan malam, rate perharinya pun cukup murah , hanya 100 rb perhari . berbeda jauh dengan hotel hotel dikota lainnya yang mempunyai rate 300 – 400 rb perharinya. Di merauke saya mendapatkan hotel dengan bangunan kuno, mungkin sudah ada sejak jaman colonial belanda dulu ya? Kamarnya punya atap yang tinggi banget , mungkin lebih dari 3 meter dengan kamar mandi yang lengkap dengan bathtub, tapi justru membuat parno dengan gambaran keangkeran nya. Beda lagi kalau di kota Wamena , kota dingin ini sungguh menjadikan air hangat pilihan utama kalau mau mandi , tapi tidak semua hotel disana menyediakan water hitter di setiap kamar mandinya , dan cari penginapan disini susahnya bukan main, memang banyak sekali pelancong dikota ini, menyebabkan over booking di setiap hotelnya.

Rata rata penginapan dipapua pasti dituliskan larangan membawa cewek kedalam kamar , kenapa ya cuman lelaki yang dianggap suka “mengangkut” cewek ! , kalau ada tante tante ngangkut cowok boleh donk , hehehehe, dan larangan minum minuman keras dikamar (hal wajar untuk yang satu ini) ataupun dilarang merokok diatas kasur , kalau larangan dilarang makan pinang di kamar dan diatas kasur (saya yakin di hotel hotel luar papua manapun belum ada larangan ini). Ada satu lagi kebiasaan banyak hotel dipapua , door opennya hanya sampai jam 11 malam saja , pulang lebih dari jam itu maka silahkan tunggu diluar (sering sekali saya kalau kerja malam hari di perbankan atau BTS dan pulang jam 3 atau 4 pagi harus nongkrong didepan pagar hotel nungguin hotel buka dulu , udah bayar hotel mahal kok pake acara kedinginan diluar juga). Percaya atau nggak boleh dicoba kok , visit papua dech di 2009 ini, selamat mencoba :)

Leia Mais…

Senin, 09 Februari 2009

Oleh2 dari Mamberamo

[ini cerita aslinya sebelum disunting dalam newsletter atau globe asia magazine]


My new history , kali ini kita akan jalan2 menjelajah lebatnya hutan tropis papua dan menelusuri jalur utama Membramo Raya , salah satu daerah pemekaran yg diupgrade statusnya 1 tahun yg lalu menjadi kabupaten pemekaran provinsi papua .Namun persiapan untuk menuju kota yg satu ini memang tidak boleh diremehkan, karena menurut temen (pergaulan dipapua) kita yg sudah pernah kesana, disana tuh susah cari toko dan harga semua kebutuhan amanat sangat mahal sekali, oleh sebab itu, nggak canggung canggung lagi dech bawa Bahan makanan yg lumayan banyak kesana , mie instan , beras , dan bumbu masakan kita siapkan dan bawa dari kota jayapura ,kali ini persiapanku mirip orang camping , bukan orang kerja . Intinya sich takut kelaparan ntar disananya :P , makanya bawa a sampe z nya bahan makanan and bawanya absolutely mixing dengan perangkat VSAT yg lainnya (seperangkat alat VMS dan seperangkat alat masak lengkap) hehehhee ....


Menurut statistik yg ada saat ini , jumlah penduduk membramo adalah 20.000 jiwa , wow angka yg mencengangkan untuk tingkat kabupaten , bisa dibayangkan kalau kita bandingkan dengan sebuah kecamatan atau kelurahan dijawa sana ,tingkat kepadatan pupulasi penduduknya amat sangat berbeda jauh. Letak kota ini sendiri berada di lintang selatan 2 derajat 17 menit dan bujur timur 138 drajat 2 menit , untuk menuju kelokasi , kita akan mengawali trip kali ini dari kota jayapura ,dari ibu kota provinsi ini kita menyewa kendaraan toyota kijang untuk mengantarkan kekota trasit tujuan kita yaitu kota sarmi, perjalanan darat ini kita tempuh selama kurang lebih 12 jam perjalanan tanpa istirahat ,akses yg dilalui kali ini lumayan membuat badan sakit2 dikit , karena jalan beraspal yg kita lalui hanyalah berlangsung dalam 3 jam pertama , selebihnya jalan yg kita lalui adalah jalan berbatu ataupun jalanan berlumpur , belum lagi 2 sungai yg harus kita lewati dengan cara menaikkan mobil keatas getek, dan memang cara inilah yg bisa menyeberangkan kita dari bibir sungai yg satu kebibir sungai lainnya,sekali naik rakit ini kocek yg harus dikeluarkan oleh pemilik mobil adalah 500 rb rupiah, kalau ada 2 sungai ya 1 jt dikeluarkan untuk akses rakit saja , jadi biaya sewa mobil sebesar 4 jt memang hal yg lumrah dengan kondisi yg seperti ini, sesampainya dikota sarmi waktu sudah malam , istirahat dulu donk buat menghimpun tenaga baru besok.


Esok harinya kita akan hunting speedboat yg bisa kita sewa menjelajah sungai membramo untuk mengantarkan kita menuju ke kasonaweja , tempat dimana pusat pemerintahan kabupaten membramo saat ini berada , memang semua perjuangan itu tidak ada yg berjalan lancar semulus rencana diatas kertas kita sebelumnya, kali ini aral yg melintang adalah harga BBM yg amat sangat menggila dengan menembus angka 20 rb per liter bensin. Harga Minyak dunia turun , pemerintah juga sudah akan menurunkan harga bensin gopek, ini kok keadaannya malah serba terbalik dilapangan , yah apalagi papua , hal ini sudah amat sangat lumrah terjadi (hanya dipapua, yg lain trada) usaha kita 2 hari hanya mampu mendapatkan harga bensin 15 rb perliternya dengan kapasitas bensin yg diperlukan 400 lt untuk perjalanan ini , kocekpun terrogoh 12jt utk perjalanan laut dan sungai ini, waktu tempuh diperkirakan 14 sampai 16 jam perjalanan , ready speedboat and the oil , loading perangkat dan antena pun dilakukan keatas speedboad , wah kayak orang perang aja kali ini, let's look the cargo:)dan mulailah berdoa karena adrenalin kita akan diuji dalam perjalanan nanti:P


Dari bibir pantai Sarmi perjalanan kita lalui dengan lumayan lancar dengan melewati satu persatu ombak samudra pasifik hingga waktu telah menunjukkan siang hari saat kita memasuki muara sungai membramo , bekal makan kita buka untuk menginsi perut yg sudah mulai keroncongan, selesai makan nasi bungkus, perjalaan kita lanjutkan kembali, namun alam menunjukkan perubahan yg terlalu besar , dari cuaca yg cerah berubah ke mendung yg begitu pekat , dan gerimis pun mulai menyapa kita hingga hujan lebat dari titik puncak awan kelabu tersebut namanya juga hutan tropis, hujannya uedan tenan, dengan kondisi speed yg tidak mempunyai atap untuk berlindung dari panas dan hujan , kami pun ber hujan-hujanan ria menerima siklus air murni milik Illahi, dengan kondisi hujan yg seperti ini perjalanan kami sering sekali terhambat oleh luapan air sungai yg amat sangat deras dan juga kayu2 gelondongan besar yg terbawa arus sehingga sering kali motor speed kita mengalami problem , kondisi terus berjalan hingga petang menyapa kami , kondisi yg kurang fit pada speed dan fisik kami yg sudah kehujanan sejak siang hari membuat kita memutuskan untuk mencari tempat berteduh dan mengeringkan badan , dalam artian perjalanan ini kita pending ditengah jalan untuk mencari keselamatan diri, beberapa kampung dan basecamp loging kayu HPH kami lalui dan kami singgahi untuk menumpang menginap atau bermalam , dan besok paginya kami lanjutkan perjalanan kembali hingga tiba di kota kasonaweja. Yang seharusnya perjalanan sehari , ini malah jadi berhari hari .... yah kurang doanya kali ya waktu berangkat kemarin , atau emang udah takdir untuk merasakan trveling yg seperti ini? ... sesuai slogan LA .. enjoy aja coy ....


Udah sampe dilokasi , eh kondisi lokasi memang tidak dapat ditebak, bloon nya aq kali ya kenapa kok bayangin dulu kondisi lokasinya , hasilnya malah berbeda 180 derajat, keadaan yg setiap hari hujan membuat akses jalan yg baru saja dibuka menjadi licin dan berlumpur , kondisi yg seperti inilah yg harus kami tempuh untuk moving antena dan perangkat dari bibir sungai ke lokasi kantor bupati sebagai tempat pemasangan VSAT dengan cara berjalan kaki , bukan main ujian mental dan fisik kali ini , ini benar benar namanya camping, kemana mana kita harus jalan kaki dengan kondisi jalan berlumpur (kalo diiklan susu anline kita dalam sehari harus berjalan kaki 10 ribu langkah, udah bakalan lebih kalik kalo aq jalan kaki tiap hari), cari buruh angkut saja , kita harus menuju kota dengan jarak 4 sampai 5 km untuk mengatur perjanjian dengan para buruh, barulah kita bekerja dengan buruh buruh tersebut, pembuatan pondasi pun untuk mendapatkan material pasirnya harus diangkut secara manual/pikul dari sungai ke lokasi. Yah inilah keadaan kota kabupaten yg baru lahir 1 tahun, jadi masih amat sangat muda dan fasilitas apapun masih amat sangat terbatas.


Hidup dimembramo saat ini mirip sekali mungkin ya sama keadaan umum masyarakat indonesia tahun 50an (fifty), mau kemana mana jalan kaki (bagi yg udah biasa kemana2 pake kendaraan , kaki loe bakalan 'gempor' alias capek abis) , masak pake tungku kayu (ye ... mengalami seperti masa pramuka dulu aq, soalnya kalo camping ama temen2 udah bawa parafin, tapi disini ketemu lagi tungku kayu, buat masak sarapan ampe makan malam) dan masakan standart kita tiap harinya adalah nasi plus mie instan, upgrade dikit lah kadang kadang pake kornet, sarden dan telur, untuk sayur andalan kita adalah kangkung ama daun singkong, itupun kalo hari sebelumnya ada orang2 yg sengaja kebasecamp untuk jual tuh kangkung, tapi ya walau hanya kangkung dan ikan sarden kaleng rasa makanannya mak nyuss tenan :) (atau emang karna gak ada pilihan lainnya ya?) yang pasti disono sampe sekarang masih belum ada warung makan, mandi di alam terbuka, tidur beralas terpal berselimut sleepingbed (udah kayak kepompong aja dech pokoknya) ... top markotop dah ,HP canggih kayak apapun disini nggak ada pengaruhnya, palingan juga cuman buat dengerin MP3 (nggak ada BTS soalnya disini, jadi trada sinyal GSM), tapi jangan salah disini ada internet boo .... (kalo iklan telkom , internet dah masuk kampung, lintasarta harusnya buat iklan internet dah masuk sampe ujung hutan indonesia) , listrik dari PLN baru mau menyala awal tahun , tapi internet dah jalan duluan , yah walau installasinya harus memakan korban 1 UPS dan berbagai macam jenis konfigurasi power harus kita lakukan (solar cell, bateray bank, lek ada alat pembangkit nuklir aq coba pisan paling) pokok e mantep tenan.


ya ya ya ... kerjaan dah selesai , tetep aja nggak bisa pulang , karena perjuangan belum usai tunggu sampe ada speed yg naik ke membramo dan kita bisa sewa untuk balik ke sarmi, ataupun numpang speed orang yg mau keluar dari membramo , kalo daerah gini masih susah transportasi nya gimana mau kebuka ya/pembangunan bisa berjalan lancar kalo angkutan pindah pindahin barang atau orangnya susah , jadi biar bagaimanapun ini salah satu cara untuk membuka terisolasian sodara setanah air kita ... yah ... buka mata , ini nyata , dan masih banyak yg seperti ini di papua.Karena bosen nungguin speedboat atau pesawat atau kapal yg mau keluar membramo eh musibah datang dengan amat sangat tidak diduga, sakit malaria akhirnya datang juga setelah 4 tahun aq melalang buana di pulau papua, malaria tropika , ini adalah malariaku yg pertama setelah selama ini aq dipapua, I think this the wrong place and the wrong time, tapi mana ada sakit janjian dulu ama orang yg akan menderita akibat penyakit itu, yo tompo wae wes rul, tapi nih baru pertama kalinya aq kenal namanya infus, baru aja kenalan salam 4 hari perawatan dipuskesmas udah menghabiskan 20 botol infus (kenal langsung doyan kalik ya? Langsung habis segitu banyak), thanks pak dokter atas perawatannya, untuk pertama dan terakhir kalinya aja dech sakit malaria.


dear bli ,thanks for the gift,this best moment for my b'day . Trada yg blok papua !
Semoga sibolang bisa segera kembali kekota dan tidak hanya berpetualang di dalam hutan :)

Leia Mais…

Kamis, 05 Februari 2009

Seabad yang lalu ditanah Papua

Dari catatan harian R.Bayer K dan istrinya Anna Canbier 2 juli 1883 Seorang Zendeling yg pernah tinggal di Yaur Papua, Ia mengatakan Orang Papua Suku Yerisan dan Hundura masih dan banyak suku di Papua masih menganut sistim Kanibal dan Masih sering Melakukan peperangan Raak, perang budak yang tiada habis2nya.

Kalau misalkan aq kesini seabad silam bisa dibayangkan kalau aq nanti dicincang2 terus diremes2 dijadiin perkedel special, wuhahahhaha …. Emak-ku bakalan nangis tuh … 

Btw itukan seabad yang lalu, dan sekarang papua termasuk daerah penting, penting bagi mereka yg ingin berjelajah dihutan rimba ,bagi pedagang pasti dech cepet kaya kalau disini (untung terus) asala tau celah bisnis di papua aja, kok malah bahas perdagangan? Balik ketopik ya  , biar gimana juga suku asli sini menjadikan Indonesia lebih kuat, walaupun masih banyak tertinggal (maaf ya sodara2ku yg berada dipapua, bukannya ingin mendiskriminasikan) tapi dibandingkan sodara mereka RAS lain, gimana enggak ,pendidikan saja dari satu kabupaten dengan kabupaten atau kota lainnya saja masih mempunyai kesenjangan yg jauh, belum lagi kalau kita pinggiran kota ,mungkin perjalanan darat sekitar 4-5 jam dengan jarak tempuh 40-50 km dari kota, terkadang kita masih bisa melihat orang pake koteka, asikkan , pemandangan yang nggak biasa dilihat dimasyarakat Indonesia pada umumnya.

Dan aq juga baru denger kalo ternyata dalam satu suku itu masih ada yang namanya keluarga raja dan keluarga budak, dan dari mana asal kerajaan itu sendiri pada blom ada yg tau, atau mungkin itu pemberian/warisan dari perang kolonial Belanda, biar gampang mengadu domba gitu dech. Yah memang harus diakui, bahwa pendidikan belanda diindonesia lebih tertanam dibandingkan pendidikan pemerintah Indonesia .. coba kita flashback kalo belanda menguasai Indonesia 3,5 abad sedang Indonesia merdeka aja baru 60 th an, apa karena satu factor ini , yah yg tau hanya para politikus yang menguasai hajat hidup orang banyak. Siang aja toko2 dipapua masih banyak yang mengenal tutup untuk istirahat/tidur siang, ini khan budaya warisan Netherland.

Tapi apapun itu , saat ini rakyat Papua sudah bangun untuk maju, berupaya untuk bangkit dari pandangan sebelah mata, membuktikan bahwa papua juga mempunyai potensial alam dan manusia yg baik , dan menjauh dari budaya kanibal secara ekonomi rakyat (buktinya ada BLT dan dana otsus tho)

Leia Mais…