Minggu, 04 Desember 2011

kisah 7 tahun yang lalu



1 Desember 2004 , 2 anak culun ingin mengadu nasib di kota J yang penuh dengan gemerlap lampu disaat malam hari , coba tebak kota apakah itu ? JAKARTA …. Sayang jawaban anda salah yang benar adalah Jayapura , ya ya ya ya .. 2 anak yang masih lugu lugu dan unyu unyunya waktu itu , dengan tekat semangat colombus untuk menemui daratan baru , menimba ilmu sampe negeri Cina , dan mencari jalan menuju roma , katanya bolehlah mampir ke Jayapura dulu … weleh2 , kok mencelate adoh banget yah.

Lepas Magrib aq dan fajar berangkat ke Bandara Juanda , waktu itu bandara Juanda masih di terminal lama , terminal Haji sekarang . Berangkat diantar pake mobil kantor bersama rekan rekan teknisi LA Surabaya (ada karjo , Ali , seng liyane lali aq) mobil rasanya penuh itu , didalem mobil isinya bercanda aja , padahal itu jantung berdebar kencang , kok yo nekat banget ini anak dua pindah ke Jayapura dari Jawa di usia kami yang masih 18 tahun waktu itu .

Surabaya – Jayapura , waktu itu Pesawatnya cuman ada Merpati dengan model Foker F-100 , dan untuk perjalanan Jauh selalu dikasih seat paling belakang deket sama mesin pesawat , berisik buanget dah pokok nya , awal cerita perjalanan dimulai dengan cek in di bandara , fajar yang baru pertama kali naik pesawat ya dengan cool nya dia narik koper gelindingnya , saya ? .. ambil trolley lah , lha wong waktu itu kita bawa computer set lengkap juga , hasil lungsuran dari pak TJU , masuk pake diperiksa sama petugas bandara , fajar ngikutin aja sama dengan penumpang lainnya , macak wes tau numpak kapal mabur dek e .. dan tetap tidak terlihat ndesok karena emang baru pertama kali naik pesawat itu , masukkan barang ke x-ray dan mulailah kita cek in , tau ndak barang bawaan kita over weight sekitar 30 kg , dan tau kah anda berapa biaya untuk kelebihan bagasi itu , eng ing eng … 1,300,000 IDR , itu mah gaji kite sebulan kali , dan akhirnya kita berkomat kamit kenapa juga bawa PC itu yang buat over banyak … gak papa lah , pengalaman kena over budget pertama kali , nanti juga di cash ke kantor over nya , tapi permasalahannya adalah , siapa yg punya duit buat bayar itu … akhirnya lari lah saya ke ATM Center , cek saldo … Alhamdulillah , masih cukup buat bayar .

Dari Cek in counter jalan dong dengan gaya ke ruang tunggu , karena ini pesawat malam , ya bandara udah sepi aja jaman segitu , tahun segitu peminat pesawat belom sebanyak sekarang mungkin yah , dan waktu itu harga tiket pesawat juga masih muahal . di ruang tunggu kita cuman mangap mangap , dengan merenungi detik detik terakhir di tanah jawa , sms kesana kesini , sms orang tua , temen2 yg antar tadi , temen2 deket sekolah , sampe sms gebetan kita , atau cem ceman kita dulu … hahahaha , yah biasalah anak muda J

Boarding time , rasanya nyesek banget , dengan mengucak bismillah , diniatkan untuk bekerja untuk cari duit halal dan membahagiakan orang tua (cieh … kaya anak berbakti dan soleh aja loe lik) kita melurukan niat berangkat ke Jakarta , eh salah .. ke Jayapura .

Pesawat pertama kali yang dinaiki fajar , saat mba pramugari memberikan pengarahan gimana pasang sabuk pengaman , pake pelampung , fajar perhatiin beneran dah tuh , hamper seperti dia perhatiin bapak dan ibu guru nerangin pelajaran waktu sekolah dulu , ya aq godain aja , tenang jar , gak bakalan ada ujiannya kok itu , dan tetep dapet makan nanti walau gak ikutan perhatiin , hahahha … mungkin dalam hatinya fajar bilang “cah edan , ini khan demi keselamatan kita juga nantinya kalo ada force major” .. aq jawab juga dalam hati “ pesawat kecil gini , kalo mati mesin ya mati aja kita , pesawat kecil , beban banyak gini , langsung nyungsep aja itu pesawat” …. Kaya punya telepati aja kita ini ngobrol dari hati ke hati … cieh …. Ketawan bener emang aq yg edan sepertinya .

Karena sudah malam dan waktunya tidur , untung gak diwajibkan cuci kaki dan minum susu dulu sebelum tidur , dan tidur lah kita di pesawat , fajar kalau aq perhatiin ndak tidur dech dia, perhatikan saja semua yang ada disekeliling nya pesawat , sampe bosen mungkin ya lihat itu itu aja , atau justru dia menikmati 1st time penerbangannya , tp tetap saya yakin atas penilaianku sendiri “fajar tegang sama pengalaman pertama kali terbang” hehehehe …

Makan malam dipesawat dikasih tuh sama mbak mbaknya makanan , nasi apa ya waktu itu .. lupa lah , habis makan , tidur lagi lah aq , hahaha , lha mau main bola atau PS juga kagak boleh , mau godain mbak mbak pramugarinya ntar dibilang , apa sih nih anak bau kencur goda goda kita … ya enakan tidur aja .

Transit pertama di Makassar , yah itu pertama kali fajar tahu Makassar , walau cuman mampir bandara saja , tapi paling tidak kita sudah ada di Makassar , sampe Makassar kita sudah dinihari , 30 menit pesawat take off lagi , dan kita terbang ke papua … , menjelang subuh pesawat turun di sorong , kepala burung papua itu waktu tahun itu bandara masih berada di sebuah pulau jefman , jauh dari daratan , mau ke kota harus naik speedboat dulu selama 30 – 40 menit , dan itu lah pertama kalinya fajar menginjakkan kaki di tanah papua (untung gak pake acara sujud cium tanah loe jar , bisa dikira orang pingsang nanti) , lihat orang orang item item semua mungkin yah , baru bangun dari jet leg yang penuh dengan kebisingan mesin jet pesawat , nggak nyaman juga tidurnya , hasilnya kaya orang mabuk laut aja geloyoran , dan suasana papua pun mulai menerpa kita , bau laut , bau pinang , dan bau bau yg lainnya , termasuk bau iler ku sendiri paling yah ….

Setelah transit di sorong , terbanglah kita , dan mampir lagi ke manokwari yang saat ini ibukota provinsi papua barat , baru lah kita melanjutkan ke Sentani Jayapura , kita berangkat dari Surabaya jam 10 malam , mampir Makassar , sorong dan manokwari , sampe disentani jam 14,00 WIT … hitung tuh berapa lama dipesawat … yang pasti rejekinya fajar lah , sekali naik pesawat langsung seperti Jakarta – Arab aja waktu tempuh perjalanannya , anggap saja kita naik haji ya jar … hahahaha

Akhirnya , ini Jayapura , sentani , setelah menunggu bagasi keluar , langsung lah kita bergotong royong untung angkut barang2 yang kita bawa tadi , kenapa gotong royong , karena di Jayapura waktu itu belom ada trolley dan adanya buruh angkut / porter saja , karena ane juga masih takut waktu itu daripada barang kita tidak tahu rimbanya dibawa sam porter yaudah lah 2 orang kurus2 itu angkat sendiri barang2 kita , dan mencari taksi Bandar berupa mobil kijang kotak yang dijawa aja udah gak banyak tuh mobilnya .. dan meluncur ke kota jayapura , maklum karena aq yang sudah pernah ke Jayapura sebelumnya , ya aq yang coba menjelaskan daerah2nya sekitaranyang kita lewati ke fajar . 1 jam perjalanan ditempuh dari sentani ke kota Jayapura , jalan yang menarik dengan mengelilingi sebagian danau sentani , mendaki beberapa Gunung dan lembah , dan sampailah kita di mana kita mengabdi beberapa tahun , JAYAPURA , indah untuk dikenang , dimana 2 anak muda ini termasuk nekat (nekad atau berani sih kita jang) menjalani tanggung jawab yang saat itu diamanahkan kepada kami semua , pertama kali jauh (banget) dari orang tua , tanpa sodara dekat dan hanya ilmu ketelatenan kita lah kita dapat menikmati hasil yang saat ini .

Terima kasih buat Pace Denny yang mau menerima kita sebagai junior baru di Jayapura dan dikasih fasilitas menginap di kos nya tanpa harus ikutan bayar kos , dan beliau lah yang tidak pernah pelit ilmu untuk disharing ke kami , fajar sahabatku yang tau lebih dari pada teman teman yang lain.

Leia Mais…

Minggu, 30 Oktober 2011

Melihat lebih jauh

Iseng liat web-nya mbak Dian Sastro, dapet tulisan dibawah.. tulisan ini pertama kali terbit di Kompas tgl 14 Februari 2009, bagus banget salut buat Kompas dan Pak Herry Tjahjono, maaf ya Pak Herry tulisannya saya posting di blog saya, semoga Kompas dan Pak Herry tidak keberatan. Tulisannya memberikan semangat baru buat saya dan bisa melihat lebih jauh....

Mungkin inilah yg sedikit menenangkan saya waktu menerima dengan lebih ikhlas putaran kedua saya berkarir di tanah Papua , ambil positifnya , dan jalankan dengan penuh tanggung jawab , insyaallah jalannya akan lebih mudah di lalui daripada kita hanya mengeluh ….

Melihat lebih jauh

oleh: Herry Tjahjono

Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.

Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja "hanya" sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.

Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis "manusia besar atau manusia berlebih" (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian "rendah dan biasa saja". Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.

Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk "melihat lebih"! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu "memberi lebih" (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi "KPI kehidupan" kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan "KVI kehidupan" kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita "mau" melihat lebih jauh, kita akan "mampu" melangkah lebih jauh.

Herry Tjahjono

Corporate Culture Therapist & President The XO Way, Jakarta

Leia Mais…

Perjuangan Plat merah berakhir


“ Plat Merah “ sebuah jargon yang selalu ditunggu oleh karyawan kontrak seperti kita kita ini dulu , oh iya Plat Merah ini bukannya perusahaan BUMN ataupun pegawai sipil yah , sekali lagi ini adalah jargon buat kuli kuli seperti kita2 , kerja keras yang berbuah kepuasan , inilah manisnya kesabaran, untuk mencapai ini saya sendiri harus bersabar dan terus bekerja keras selama 7 tahun (2004 -2011), kegagalan itu bukan menjadikan kita tenggelam kedalam sebuah keadaan dimana kita menjadi tertekan tiada akhir , kita harus terus bangkit dan belajar kembali. Keberuntungan dan dukungan adalah factor lainnya yang tidak bisa dihindari. Aq dewe sempet jatuh th 2008 , wow 3 th untuk bisa mendapatkan kesempatan lagi , jangan pernah membuang kesempatan , selagi ada sikat saja , karena kita tidak tahu kapan ada lagi kesempatan itu. Jadikanlah ini pelajaran penting , kalau aq berpikir , kenapa orang pernah berada dipersimpangan jalan , dan mereka mengambil keputusan untuk mengakhiri loyalitas pada perusahaan yg telah membesarkan dan memberinya ilmu , semua karyawan itu egois jika mereka berfikir saya tidak dihargai yang sepadan dengan apa yg saya miliki , apakah mereka itu telah berfikir saat mereka masuk untuk belajar di perusahaan itu mereka sudah dalam kondisi professional seperti sekarang ini ? darah dan daging ku saat ini terdapat kebaikan dari prusahaanku saat ini , dan itu yang telah menghidupkanku pribadi dan keluargaku , jadi wajarlah loyalitas selama ini aq berikan , dan semoga kedepannya tetap seperti ini , this new responsibility , to be best working , bismillahitawakaltu la’khaulawalakuwatta illa billahil azim


Leia Mais…